Persekutuan Gojek dan Bank Jago Permudah Akses Layanan Finansial

  • Home
  • Info
  • Persekutuan Gojek dan Bank Jago Permudah Akses Layanan Finansial

Promo menarik pada undian Data Sidney 2020 – 2021.

VIVA   –  Gojek beberapa hari lalu mengumumkan bahwa mereka  berinvestasi di PT  Bank  Jago Tbk, yang merupakan bank berbasis teknologi di Indonesia. Pelaksanaan transportasi online itu resmi mempunyai 22 persen saham dari bank yang dulunya bernama Bank Artos tersebut.

Masuknya Gojek diyakini akan menghasilkan layanan finansial yang lebih universal melalui bank digital. Diharapkan ini akan menjelma pendorong meningkatnya akses keuangan pada seluruh lapisan masyarakat di Nusantara.

“Menurut saya, itu merupakan strategi bisnis yang hendak mendorong inklusi keuangan. Memang belakang yang akan berperan banyak ialah GoPay. Karena daya jangkau GoPay sudah mencapai 200 kabupaten lebih, ” ujar  Ekonom Digital LPEM FEB Universitas Indonesia, Chaikal Nuryakin di Jakarta, Senin 21 Desember 2020.  

Saat ini, GoPay bukan merupakan institusi perbankan, sehingga tak bisa dikembangkan lebih jauh minus adanya kerja sama dengan perusahaan yang bergerak dalam bidang perbankan.

”Gojek akan maka lebih mudah untuk mengakses servis perbankan, yang sebelumnya mereka tidak bisa karena terbentur perizinan. Sekarang dengan ada Bank Jago, mereka bisa, ” tuturnya.

Sementara itu, Bank Jago dianggap juga bakal meraih manfaat gembung dari kehadiran Gojek. Terutama daripada sisi transfer teknologi. ”Bank Jagoan juga jadi lebih mudah buat mendigitalisasi layanannya, ” ungkapnya.

Menurut data,   Indonesia merupakan negara keempat terbesar di dunia dengan warga masyarakat yang belum memiliki rekening bank. Sebanyak 95 juta orang  tidak memiliki rekening bank, dan lebih dari 47 juta penduduk dewasa tidak memiliki akses memadai pada kredit, investasi atau asuransi.

Kehadiran Gojek dengan memiliki layanan GoPay, serta servis keuangan digital yang akan diluncurkan bersama Bank Jago, dianggap bakal memberi pengaruh  signifikan untuk mengatasi persoalan tersebut.

Alasannya,   70-80 persen populasi di Indonesia sudah memiliki akses ke smartphone  saat ini. Terlebih teristimewa, masih banyak masyarakat yang mau memasukkan uangnya ke bank.

“Layanan peer to peer hanya sebatas lending,   tak sampai ke saving. Hal tersebut seharusnya mendorong bank konvensional untuk masuk ke sektor digital, ” jelasnya.