Netizen Ramai Bahas Wajah Baru Superior Twitter Jack Dorsey

  • Home
  • Info
  • Netizen Ramai Bahas Wajah Baru Superior Twitter Jack Dorsey

VIVA   –  Sejumlah pimpinan platform online global ada dalam rapat dengar pendapat secara Senat Amerika Serikat (AS) secara virtual beberapa hari lalu. Lengah satunya bos Twitter Jack Dorsey. Namun, wajah pendiri media sosial berlogo burung itu mencuri mengindahkan netizen.

Mereka terjaga saat Dorsey tampil dengan janggut panjang seperti tidak terawat. Sebelumnya, CEO Twitter itu memang tampil dengan janggut dan kumis. Tetapi selalu rapi, berbeda dengan penampilannya pada rapat tersebut.

Netizen pun cacat bereaksi dengan penampilan anyar pria berusia 43 tahun itu. Melansir laman Fox News , Minggu, 1 November 2020, Dorsey dikatakan mirip Santa Claus hingga janggutnya disebut menjijikan serta dilabeli konyol.

Selain Dorsey, Senat AS juga mengundang sejumlah petinggi perusahaan platform online lainnya, seperti CEO Facebook Mark Zuckerberg dan CEO Google Sundar Pichai.

Melansir laman USA Today , dalam rapat dengar pendapat itu, Dorsey menegaskan jika Twitter tak mempengaruhi pemilu. Sebab, menurutnya para pemilih bisa memeriksa informasi politik di mana pun dan dari sumber manapun.

Pernyataan Dorsey itu memasukkan klaim Zuckerberg setelah pemilu GANDAR pada 2016. Namun hal tersebut sebelum terungkap skandal campur tangan Rusia pada pemilihan empat tahun lalu tersebut.

Pertanyaan itu datang dari Senator Partai Republik, Ted Cruz. Ia juga menuding para pimpinan raksasa teknologi tersebut, khususnya Twitter melakukan bias dan penindasan secara motif politik.

Seluruh pimpinan perusahaan teknologi menyangkal ada keberpihakan pada mulia pihak. Menurut mereka, kebijakan yang ada sangat seimbang dan menguatkan pengguna untuk mengekspresikan diri secara bebas dan menjauhkan kebencian, pelecehan dan misinformasi dari masing-masing platform.

Sebelumnya, Presiden GANDAR Donald Trump kembali berulah pada Twitter. Sampai media sosial berlogo burung biru ini pun buat kesekian kalinya memberi label cuitan Presiden Amerika Serikat (AS) ke-45 itu.

Tweet bermasalah itu mengenai ketidaksesuaian jumlah surat suara yang beredar di semesta Amerika Serikat (AS). Oleh karena itu ia ingin secepatnya menyelesaikan masalah ini sebelum 3 November mendatang.

Twitter lalu melabeli cuitan tersebut dan menyebutnya sebagai informasi yang tidak benar atau  misleading. Mereka juga membuktikan terdapat cek fakta mengenai pengumpulan suara melalui surat suara.